Tampilkan postingan dengan label tentang islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang islam. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Januari 2014

Fase Penciptaan Manusia (1)




Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rasul untuk seluruh dunia sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam al-Quran,

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuknya rahmat bagi sernesta alam. " (QS al-Anbiyaa' : 107)

Dan Nabi Muhammad SAW juga utusan Allah untuk orang Badui yang tinggal di gurun sebagaimana dia utusan Allah untuk ilmuwan sekarang ini yang dipenuhi alat-alat laboratorium modern. Dia adalah utusan Allah untuk semua manusia di setiap saat. Sebelum Nabi Muhammad SAW setiap rasul diutus semata-mata untuk kaumnya sendiri. . .
"Kamu hanyalah seorang pemberi peringatan, dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. " (QS ar-Ra'ad : 7)

Akan tetapi, pesan Nabi Muhammad SAW adalah un­tuk seluruh umat manusia, dan untuk alasan itulah Allah memberi bukti yang mendukung pesan Nabi Muhammad SAW Bukti ini berbeda dengan bukti-bukti yang diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Bukti kerasulan yang terdahulu hanya dilihat pada zamannya dan kemungkinan generasi setelah mereka. Kemudian Allah menurunkan rasul yang baru, yang didukung dengan keajaiban-keajaiban baru, untuk membangkitkan kepercayaan kaumnya. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW karena dipersiapkan sebagai rasul yang terakhir sampai Hari Kebangkitan, Allah memberinya mukjizat yang abadi sebagai bukti yang mendukung, yaitu al-Quran.
Jika kita bertanya kepada orang Yahudi atau Nasrani yang menunjukkan kepada kita mukjizat Nabi Musa AS atau Nabi Isa AS yang mungkin sebagai berkah dan perjanjian Allah kepada mereka, maka keduanya akan menyampaikan ini tidak dalam jangkauan manusia un­tuk mempertunjukkan kembali beberapa mukjizat sekarang. Nabi Musa memiliki mukjizat tongkat yang tidak dapat diciptakan atau Nabi Isa AS diminta untuk menghidupkan kembali orang dari kematian. Untuk kita sekarang, mukjizat-mukjizat ini tidak lebih hanya menjadi laporan sejarah. Tetapi jika seorang Islam ditanya tentang mukjizat terbesar Nabi Muhamad SAW dia dapat menunjukkan al-Quran. Al-Quran adalah sebuah mukjizat yang meninggalkan bekas di tangan kita. Al-Quran adalah buku yang terbuka untuk semua orang untuk mengujinya.
Sebagaimana firman Allah di dalam al-Quran:

"Katakanlah: Apakah keterangan (saksi) yang paling besar? Katakanlah: Allah, Dia men­jadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku, supaya dengan itu aku dapat memberi pengertian kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Quran kepadanya. " (QS al-An'am : 19)

Alam yang menakjubkan dari al-Quran di mana terletak pengetahuan di dalamnya. Allah Yang Maha Agung berfirman:

". . . tetapi Allah mengakui al-Quran yang diturunkan Nya kepadamu (Muhammad), Al­lah menurunkannya dengan ilmu Nya. " (QS an­Nisa : 166)

Oleh karena itu, para ilmuwan di zaman kita dan para sarjana, profesor di beberapa universitas yang memimpin pemikiran manusia, memiliki kesempatan untuk menguji pengetahuan yang ditemukan dalam firman Allah. Pada zaman sekarang, para ilmuwan telah mengungguli dalam penemuan alam semesta, akan tetapi al-Quran lebih dulu telah menjelaskan alam semesta dan sifat alami manusia sebelumnya. Sehingga, apa hasilnya?
Kami menghadirkan Profesor Emeritus Keith Moore, salah satu dari ilmuwan dunia yang terkemuka dalam bidang Anatomi dan Embriologi. Kami bertanya kepada Profesor Moore untuk memberikan analisis ilmiah dari beberapa versi al-Quran secara spesifik kepada kita dan hadis mengenai lapangannya secara khusus.
ProfesorMoore adalah penulis buku yang berjudul "The Development Human". Dia adalah Profiesor Emeritus ahli Anatomi dan Sel Biologi Universitas Toronto, Kanada, di mana dia Ketua Jurusan Basic Sciences, Fakultas Kesehatan, dan selama 8 tahun Ketua Jurusan Anatomi. Prof. Moore sebelumnya juga mengabdi pada Universitas Winndipeg, Kanada, selama sebelas tahun. Dia mengepalai beberapa Internasional Associations of Anatomist and the Counalofthe Union of Biological Science. Profesor Moore juga terpilih anggota Royal Medical Associations of Canada, the Intemational Academy of Cytology, the Union of American Anatomist dan the Union of North dan South American Anatomist, dan pada tahun 1984 menerima penghargaan yang terkenal dalam bidang anatomi di Kanada, JCB Grant Award dari the Canadian Association of Anatomist. Dia menerbitkan beberapa buku di klinik Anatomi dan Embriologi, delapan dari buku ini digunakan sebagai referensi di sekolah medis dan talah diterjemahkaii ke dalam enam bahasa.
Ketika kami bertanya kepada Profesor Moore untuk memberikan analisis kepada kami tentang ayat al-Quran dan sabda nabi, maka dia terkejut. Dia heran bagaimana Nabi Muhammad SAW pada 14 abad yang lalu dapat mendeskripsikan embrio dan fase perkembangannya secara detail dan akurat, yang mana para ilmuwan untuk mengetahui hal itu baru tiga puluh tahun terakhir. Akan tetapi, keterkejutan Profesor Moore itu berkembang begitu cepat menjadi kekaguman terhadap wahyu dan petunjuk ini. Dia memperkenalkan sudut pandang ini secara intelektual dan lingkungan ilmiah. Dia juga memberi sebuah surat pada kesesuaian embriologi modern dengan al-Quran dan Sunnah, di mana dia menyatakan sebagai berikut: "Ini merupakan kesenangan yang besar bagi saya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan di dalam al-Quran tentang perkembangan manusia. Telah jelas bagi saya bahwa pernyataan yang datang kepada Nabi Muhammad pasti dari Allah atau Tuhan sebab hampir semua pengetahuan tidak ditemukan sampai beberapa abad terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. "
Pertimbangan yang terkenal dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas pembelajaran ayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Allah berfirman di dalam al-Quran tentang tingkatan penciptaan manusia:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. " (QS al-Mukminun : 12-14)

Kata alaqah dalam bahasa Arab memiliki tiga arti. Pertama, berarti pacet atau lintah; kedua, berarti sesuatu yang tertutup; dan ketiga, berarti segumpal darah.
Dalam perbandingan lintah air tawar dengan em­brio pada tingkat alaqah, Profesor Moore menemukan persamaan yang besar di antara keduanya. Dia menyimpulkan bahwa embrio selama tingkatan alaqah kenampakannya mirip dengan lintah itu. Profesor Moore menempatkan gambar sisi embrio dengan sisi gambar seekor lintah. Dia memperlihatkan gambar gambar ini kepada para ilmuwan di beberapa konferensi.
Arti kedua dari kata alaqah adalah sesuatu yang tergantung. Hal ini dapat kita lihat dalam penggabungan embrio dengan uterus dalam rahim ibu selarna masa alaqah. Arti ketiga kata alaqah adalah segumpal darah. Hal ini berarti, sebagaimana yang diungkapkan Profesor Moore, bahwa embrio selama selama fase alaqah  melalui kejadian di dalam, seperti formasi darah di dalam pembuluh darah tertutup, sampai putaran metabolisme yang dilengkapi dengan plasenta. Selama fase alaqah, darah ditarik di dalam pembuluh darah tertutup dan itulah mengapa embrio tampak seperti segumpal darah, tampak juga seperti lintah. Kedua deskripsi itu dijelaskan secara menakjubkan dengan kata alaqah di dalam al-Quran.
Bagaimana Nabi Muhammad SAW kemungkinan telah mengetahui dirinya. Profesor Moore juga mempelajari embrio saat fase mudghah (gumpalan seperti zat/ substansi). Dia mengambil lempengan tanah liat yang kasar dan mengunyahnya ke dalam mulut. Kemudian membandingkan lempengan itu dengan sebuah gambar embrio saat fase mudghah. Profesor Moore me­nyimpullkan bahwa embrio saat fase mudghah tampak jelas seperti gumpalan zat. Beberapa majalah di Kanada menerbitkan beberapa pernyataan Profesor Moore. Lagi pula, dia menjelaskan dalam tiga acara TV di mana dia menyoroti kesesuaian ilmu pengetahuan modern dengan apa yang tersebut di dalam al-Quran selama 1400 tahun. Akibatnya, Profesor Moore ditanya dengan pertanyaan seperti berikut: "Apakah hal ini berarti kamu percaya bahwa al-Quran itu firman Allah?" Kemudian beliau menjawab: "Saya tidak menemukan kesulitan dalam penemuan hal ini." Profesor Moore juga ditanya: "Bagaimana Anda percaya dengan Nabi Muhammad SAW jika Anda masih percaya dengan Yesus Kristus?" Dia menjawab: "Saya percaya keduanya, karena keduanya dari sekolah yang sama."
Dengan demikian, semua ilmuwan modern yang ada di dunia sekarang ini datang untuk mengetahui bahwa al-Quran itu adalah pengetahuan yang diturunkan dari Allah.

"Akan tetapi Allah mengakui al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu Nya. . . . . .. " (QS an Nisa : 166)


Hal ini juga diikuti bahwa ilmuwan modern tidak menemukan kesulitan dalam mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Read more ...
Kamis, 23 Januari 2014

Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad ??


Al-Quran adalah firman Allah sebagai sumber utama untuk setiap keyakinan dan ibadah orang Islam. Hal ini merupakan sebuah peraturan untuk semua subjek yang berhubungan dengan manusia, kebijakan, ajaran, ibadah, jual-beli, hukum, dan lain-lain. Akan tetapi yang Paling utama adalah hubungan antara Allah dan makhluk Nya. Pada saat yang sama, al-Quran juga memberikan pedoman dan ajaran secara mendetail tentang kemasyarakatan, bergaul atau berperi laku dengan sesama manusia dan sistem ekonomi secara adil.
Mushaf al-Quran diturunkan kepada Nabi Muham­mad SAW dalam bahasa Arab. Sehingga banyak terjemahan al-Quran, baik yang diterjemahkan ke daiam bahasa Inggris atau bahasa lain. Tidak ada al-Quran lain atau versi lain al-Quran selain al-Quran itu sendiri. Al-Quran tetap eksis hanya dalam bahasa Arab sejak diturunkan.
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah, Jazirah Arab, tahun 570 M. Ayahnya meninggal sebelum beliau lahir dan sebentar kemudian ibunya juga meninggal. Akhirnya beliau diasuh pamannya, salah satu orang yang dihormati di suku Quraisy. Dia diasuh dalam keadaan buta huruf tidak dapat membaca atau menulis dan tetap dengan keadaan demikian sampai meninggal. Begitu beliau tumbuh dewasa, dia terkenal sebagai seorang yang jujur, terpercaya, dermawan, dan tulus hati. Karena dia orang yang dapat dipercaya, dia mendapat julukan al-Amin.
Nabi Muhammad SAW sangat tafakur dan dia sangat dibenci oleh masyarakat yang menyembah berhala sepanjang dekade. Pada waktu berumur empat puluh tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Wahyu itu berlangsung selama 23 tahun dan terkumpul dalam sebuah mushaf yang terkenal dengan nama al-Quran.
Hadis adalah perkataan Nabi Muhammad SAW yang juga dijadikan sumber kedua. Akan tetapi, pernyataan ini tidak dijadikan susunan kata secara langsung dari Allah. Sesegera mungkin dia mulai menyampaikan al-Quran dan mengajarkan kebenaran yang telah Allah turunkan kepadanya, dia dan pengikutnya yang masih sedikit mendapat penyiksaan dari orang-orang kafir. Penganiayaan itu semakin berat sampai tahun 622 M, dimana Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah.
Hijrah ini dari kota Makkah ke kota Madinah, sekitar 400 kilometer ke arah utara. Peristiwa hijrah ini lantas dijadikan sebagai pedoman kalender Hijriah.
Setelah beberapa tahun, Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya sanggup untuk kembali ke Makkah di mana mereka memaafkan musuh-musuhnya. Sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal pada umur 63 tahun, Islam telah menyebar ke seluruh ke Jazirah Arab. Dan sampai berabad-abad sepeninggainya, Islam telah menyebar ke Barat sampai ke Spanyol dan ke Timur sejauh Cina.
Di antara alasan-alasan mengapa Islam cepat berkembang dan menyebar karena Islam mengajarkan kebenaran dan perdamaian. Islam memiliki keyakinan, mengajarkan, dan merupakan agama tauhid, yaitu yang hanya menyembah satu tuhan, satu-satunya Tuhan yang patut disembah.

Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan yang memiliki sifat jujur, adil, murah hati, selalu mengasihi, dan pemberani. Dia menghilangkan semua tindak kejahatan dan berusaha sejauh mungkin semata-mata demi agama Allah dan pahala-Nya di akhirat nanti. Semua urusan dan perbuatannya dia sandarkan pada Allah.
Read more ...
Rabu, 22 Januari 2014

Hikmah Diciptakannya Setan


Akhir-akhir ini kisah-kisah misteri/mistik marak sekali ditayangkan di televisi kita. Hampir setiap malam pemirsa disuguhi kisah dan cerita misteri/mistik dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda. Seolah-olah 'kisah dunia lain itu lebih penting dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari dengan susah payah karena keterpurukan bangsa ini di segala bidang kehidupan.

Penayangan kisah-kisah misteri dan mistik ini sudah sangat berlebihan, sangat mengganggu dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Saking keterlaluannya sampai mengundang keprihatinan para ulama dan para tokoh nasional. Mereka telah menghimbau dan melayangkan surat supaya insan pertelevisian kita menghentikan tayangan-tayangan tersebut, tetapi tampaknya tidak digubris. Buktinya penayangan kisah-kisah misteri itu malah makin menjadi-jadi.

Jika dikaitkan dengan peran setan, agaknya ini adalah salah satu daya upaya setan untuk merusak akidah umat manusia, agar manusia lebih takut kepada setan daripada kepada Allah, dan agar manusia mengabdi kepada setan demi kejayaan setan.

Apa Itu Setan?


Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia (QS. 114: 1-6/QS. 6:112). Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan (QS. 2 : 36/4 : 118).

Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan (perangkapnya, Dihiasinya Kesenangan duniawi itu dihiasinya sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/ kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga disebut setan (QS. 38 : 37-38) dan golongan (partai) mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan - QS. 58 : 19).

Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia. mereka bahu rnembahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. (QS, 7:17).

Mudharat Tayangan Setan


Dalam Islam sangat jelas bahwa penayangan seperti itu diharamkan, karena: Pertama, tayangan mistik seperti itu mempersubur kemusyrikan, membuat manusia lebih takut kepada setan, khurafat dan tahyul daripada takut kepada Allah. Padahal tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat di dunia ini kecuali hanya Allah (QS. 39 : 38), tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah. Kedua, tayangan mistik seperti itu adalah bentuk pembodohan masyarakat, hanya membuat bangsa semakin jumud dan terbelakang. Ketiga, tayangan seperti itu sarat dengan praktek perdukunan. Dengan maraknya penayangan kisah-kisah mistik, maka praktek-praktek perdukunan juga semakin marak. Sedangkan perdukunan juga diharamkan dalam Islam. Dan keempat, rezeki yang dihasilkan dari usaha yang diharamkan, maka rezeki itu juga haram dan tidak diberkahi Allah. Oleh karenanya penayangan kemusyrikan itu mestilah dihilangkan karena tidak ada manfaatnya selain mudharat dunia-akhirat.

Hikmah Diciptakannya Setan


Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191). Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan Itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.

Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/ kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat musuh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.

Demikian pula setan. la selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara.

Nah, jika kita telah mcngetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.

Lebih rinci, di antara hikmah dicipta-kannya setan ialah :


1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah

Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji (QS. 29:2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, derajatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS. 41 : 30-31).

2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah,


Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS. 51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, rnembisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan rnampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada gilirannya ia akan menjadi hamba setan.

3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah.


Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.

4. Allah hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya.


Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah (QS. 3 : 195).

5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah.



Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.

Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka. Apakah ini tidak terpikirkan oleh insan pertelevisian kita?
Read more ...
Minggu, 19 Januari 2014

Bentuk-bentuk kemenangan mujahidin


Assyaikh Abu Mus’ab Azzarqawi
Kita tahu secara yakin, bahwa janji Alloh tidak akan pernah meleset. Qs. 9-Attaubah;111

Yang menjadi masalah; kita hanya membatasi pandangan kita kepada satu jenis kemenangan saja, yaitu kemenangan lahiriyah (yang nampak secara kasat mata). Padahal, tidak selalunya kemenangan seperti ini yang Alloh janjikan kepada para rosul dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Kemenangan itu bisa nampak dalam bentuk lain, di mana jiwa yang kalah dan lemah, tidak akan bisa melihatnya.

Di antara bentuk kemenangan ‘lain’ itu adalah:
1.      Dulu, kabilah-kabilah Quraisy pernah melakukan kesepakatan untuk memboikot kaum mukminin dan mengurung mereka di Syi‘ib (lembah) Abû Thôlib, di antara mereka terdapat orang-orang Banî Hâsyim. Selama tiga tahun mereka tidak pernah mengadakan transaksi jual beli. Sampai-sampai, kaum mukminin tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan, selain serangga-serangga bumi yang mereka tangkap. Bahkan, hampir saja kaum mukminin binasa kalau bukan karena limpahan rahmat dari Alloh menghampiri mereka.

2.      Kemudian kisah Ashabul Ukhdud. Dalam ceritanya, mereka rela dilemparkan ke dalam parit-parit api, dan tidak sudi memberikan tawar menawar dalam urusan agama yang mereka yakini. Mereka lebih memilih mati di jalan Alloh, walaupun setelah itu thoghut mengubur mereka di parit-parit api yang ia buat, lalu ia perintahkan penjaga-penjaga dan pasukannya untuk melemparkan orang-orang beriman itu ke dalam api. Muncullah sebuah pemandangan yang sungguh sangat mengerikan, inilah yang menjadi hukuman bagi yang melemah atau coba melarikan diri. Akan tetapi, tidak tercatat satu riwayatpun yang menyebutkan ada satu saja di antara mereka yang mundur ke belakang, takut, atau melarikan diri. Bahkan, yang kita temukan adalah sikap maju terus dan keberanian, mereka malah menceburkan diri ke dalam api. Seolah nyawa mereka telah mereka persiapkan untuk menjadi tebusan bagi agama mereka. Maka, pada dasarnya merekalah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Bahkan, Alloh ‘Azza Wa Jalla menyebut tindakan mereka sebagai kemenangan besar:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# öNçlm; ×M»¨Zy_ “̍øgrB `ÏB $pkÉJøtrB ㍻pk÷XF{$# 4 y7Ï9ºsŒ ã—öqxÿø9$# 玍Î6s3ø9$# ÇÊÊÈ  
 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, mereka mendapatkan surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar.”   (QS. Al-Burûj [85]: 11)

3.      Dan dari Anas bin Malik ra ia berkata, “Pamanku, Anas bin Nadhr, tidak ikut dalam perang Badar. Ia berkata, “Wahai Rosululloh, aku tidak ikut dalam perang pertama kali engkau memerangi orang-orang musyrik, seandainya aku nanti mengikuti perang melawan orang-orang musyrik, tentu Alloh akan melihat apa yang bakal kulakukan.” Maka tatkala pecah perang Uhud dan kaum muslimin kocar-kacir, ia berkata, “Ya Alloh, aku memohon uzur kepada-Mu atas yang diperbuat shahabat-shahabatku, dan aku berlepas diri dari apa yang diperbuat orang-orang musyrik itu.” Setelah itu, ia maju ke depan dan sempat bertemu dengan Sa‘ad bin Mu‘adz, ia berkata, “Wahai Sa‘ad bin Mu‘adz, surga… demi Robb Nadhr, surga… demi Robb Nadhr, aku mencium baunya di bawah bukit Uhud.” Sa‘ad mengatakan, “Wahai Rosululloh, aku tidak mampu melakukan seperti yang ia lakukan.”
Anas melanjutkan kisahnya, “Usai peperangan, kami temukan pada tubuhnya ada 80 luka lebih, mulai tebasan pedang, tikaman tombak, atau tusukan panah, kami menemukannya telah terbunuh dan dicincang-cincang tubuhnya oleh kaum musyrikin. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada seorangpun mampu mengenalinya lagi selain saudarinya, ia mengenali lewat jari telunjuknya.”
Kemudian Anas mengatakan, “Kami mengira bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang seperti dia atau yang semisal:
z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# ×A%y`Í‘ (#qè%y‰|¹ $tB (#r߉yg»tã ©!$# Ïmø‹n=tã ( Nßg÷YÏJsù `¨B 4Ó|Ós% ¼çmt6øtwU Nåk÷]ÏBur `¨B ãÏàtF^tƒ ( $tBur (#qä9£‰t/ WxƒÏ‰ö7s?
“Di antara orang-orang beriman ada para lelaki yang berlaku jujur terhadap janji mereka kepada Alloh; maka di antara mereka ada yang terbunuh, dan ada yagn menunggu-nunggu, dan mereka sama sekali tidak berubah.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 23)

4.      Makna kemenangan yang hampir serupa dengan ini, dapat kita temukan dalam hadits Khobbâb bin Al-Arts, ketika ia datang kepada Rosululloh dan mengatakan, “Tidakkah tuan memintakan perto-longan untuk kami? Tidakkah tuan memanjatkan doa untuk kami?” Mendengar keluhan ini, Rosululloh SAW bersabda, “Ada seorang lelaki dari umat sebelum kalian yang ditanam di dalam bumi, setelah itu dibawakan gergaji, lalu ia digergaji sejak dari kepalanya sampai akhirnya terbelah dua, tetapi itu tidak memalingkan dirinya dari agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi, sampai terlihat tulang-tulang di balik kulitnya, tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya.”
5.      Di antara bentuk kemenangan tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh selain orang-orang beriman adalah: walau sebengis dan sekelewat batas apapun siksaan musuh, ia akan merasakan berbagai tekanan jiwa dan siksaan batin sebelum akan menyiksa lawannya. Bahkan, setelah ia melakukan perbuatannya itu, ia tidak bisa beristirahat dengan tenang, dan tidak bisa merasakan kebahagiaan. Makanya dulu, Hajjâj bin Yûsuf, begitu usai membunuh Sa‘îd bin Jubair, ia merasakan beraneka ragam siksaan batin. Sampai-sampai ia tidak bisa tidur dengan tenang dan suka terbangun dari tempat tidurnya sambil ketakutan, lalu mengatakan: “Apakah yang kulakukan kepada Sa‘îd?”. Sebelum akhirnya ia mati membawa kegundahan dan kesedihannya itu.
Inilah yang kita yakini dalam perang yang kami lancarkan terhadap para pembawa bendera salib, thoghut Amerika yang sombong. Walau sombong dan angkuhnya Amerika dengan perlengkapan dan persenjataan-nya, tetapi ia mendapatkan kehinaan batin dan keruntuhan moral, yang seandainya itu disiramkan ke atas gunung tentu gunung itu akan meleleh.
Di dalam Al-Quran juga disebutkan makna ini, sebagai-mana tercantum pada surat Âli ‘Imrôn, Alloh Ta‘ala berfirman:
#sŒÎ)ur (#öqn=yz (#q‘Òtã ãNä3ø‹n=tæ Ÿ@ÏB$tRF{$# z`ÏB Åáø‹tóø9$# 4 ö@è% (#qè?qãB öNä3ÏàøŠtóÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# 7LìÎ=tæ ÏN#x‹Î/ Í‘r߉Á9$# ÇÊÊÒÈ  
 “…dan apabila mereka berlalu, mereka mendongkol hatinya kepada kalian. Katakanlah (Hai Muhammad), matilah kalian dengan kedongkolan kalian, sesungguhnya Alloh Mahatahu apa yang tersimpat dalam dada-dada.” (QS. Âli ‘Imrôn [3]: 119)

“Dan Alloh kembalikan orang-orang kafir dengan kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh kebaikan apapun. Dan Alloh telah cukupkan orang-orang beriman dengan peperangan. Dan Alloh itu Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 25)

6.      Bentuk kemenangan lain yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang yang dibutakan pandangannya adalah: Kemenangan karena kita menunggu-nunggu kehidupan yang sempurna, yang Alloh sediakan bagi wali-wali dan orang-orang pilihan-Nya, yaitu mati syahid. Alloh Ta‘ala berfirman:
Ÿwur ¨ûtù|¡øtrB tûïÏ%©!$# (#qè=ÏFè% ’Îû È@‹Î6y™ «!$# $O?ºuqøBr& 4 ö@t/ íä!$uŠômr& y‰YÏã óOÎgÎn/u‘ tbqè%y—öãƒ ÇÊÏÒÈ  
 “Dan janganlah kalian sekali-kali mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup dan mendapat rizki di sisi robbnya.” (QS. Âli ‘Imrôn [3]: 169)

Seorang penyair berkata:
Siapa tidak mati dengan pedang, akan mati dengan cara lain
Bermacam-macam sebab, tapi kematian itu satu

Dari keterangan ini, jelaslah bagi kita mengenai apakah makna yang utuh dari sebuah arti kemenangan, berarti pula kita tidak bisa hanya membatasi kemenangan semau kita.
Kemudian, motivasi lain yang menjadikan mujahidin tetap teguh dan menunjukkan sikap kepahlawanan –seperti yang kami lihat sendiri di kota Fallujah—adalah: Berita Nabi SAW yang mengkabarkan kepada kita bahwa di antara tanda kemenangan dienul-Islam adalah, kekuatan apapun di muka bumi ini tidak akan mampu membinasakan seluruh kaum mukminin, seperti kita khawatirkan akan terjadinya kembali peristiwa kaum nabi Nuh dan di awal-awal risalah. Sebab, Rosululloh SAW menerangkan, bahwa jihad ini akan terus tegak dan dilaksanakan di muka bumi. Sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits shohih:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِّنْ أُمَّتِيْ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَالِكَ
“Akan terus ada satu kelompok dari umatku yang melaksanakan perintah Alloh, tidak akan terpengaruh oleh orang yang membiarkan dan menyelisihi mereka, sampai tiba ketentuan Alloh dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.” [1]

Sesungguhnya kemenangan dan masa depan agama ini hanya di tangan Alloh Ta‘ala. Alloh telah menjaminnya dan menjanjikan kemenangan itu. Maka, kalau Dia berkehendak, akan dimenangkan dan diunggulkan. Dan jika berkehendak, kemenangan itu ditunda dan diakhirkan. Alloh Mahabijak dan Mahatahu mengenai urusan-urusan-Nya. Jika kemenangan lambat datang, maka itu karena sebuah hikmah yang telah Dia takdirkan ada kebaikan di sana terhadap keimanan dan diri orang-orang beriman. Dan, tidak ada yang lebih cemburu dalam urusan kebenaran melebihi Alloh,

“Pada hari itu, kaum mukminin bergembira dengan pertolongan Alloh, Alloh menolong siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia Mahaperkasa lagi Mahapengasih. Itulah janji Alloh, Alloh tidak menyelisihi janji-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rûm [30]: 4 – 5)

لاَ تَحْسَبِ اْلمَجْدَ تَمْراً أَنْتَ آكِلُهُ
لَنْ تَبْلُغَ اْلمَجْدَ حَتَّى تَلْعَقَ الصَّبْرَا

Jangan kalian sangka, kemuliaan hanyalah butir kurma yang dengan mudah kau kunyah
Engkau tak akan mencapai kemuliaan, sebelum engkau kunyah kesabaran

Hikmah tertundanya kemenangan:
Sesungguhnya Alloh, Dzat Yang Maha-besar kekuasaan-Nya dan Mahaper-kasa keagungan-Nya, memberikan nikmat kepada orang-orang beriman berupa kemenangan sekali waktu, dan menimpakan bala kepada mereka sekali waktu. Alloh menghalangi mereka meraih kenikmatan berupa kemenangan ini dan justru menimpakan kepada mereka pedihnya bala’ disebabkan adanya hikmah-hikmah yang Dia tentukan dan ketahui.

قَدْ يَنْعَمُ اللهُ فِي الْبَلْوَى وَإِنْ عَظُمَتْ
وَيَبْتَلِي اللهُ بَعْضَ اْلقَوْمِ بِالنِّعَمِ
Terkadang, Alloh memberikan nikmat dalam bala’, sebesar apapun bala itu…
Dan kadang Alloh menimpakan bala kepada suatu kaum dengan berbagai kenikmatan…

Ibnu`l-Qoyyim Rohimahulloh membahas hikmah-hikmah ditundanya kemenangan ini dalam kitab beliau, Zâdu `l-Ma‘âd, beliau berkata:

“Di antara hikmah mengapa kemenangan tertunda adalah:
a.      Karena itu termasuk ciri jalan yang ditempuh para rosul. Heraklius pernah berkata kepada Abû Sufyân, “Apakah kalian memerangi Nabi itu?” –maksudnya Nabi Muhammad SAW— “Ya,” jawab Abu Sufyan. “Bagaimana peperangan yang terjadi antara kalian dan dia?” tanya Heraklius. Abû Sufyân menga-takan, “Saling bergiliran, kadang kami kalah dan kadang kami mengalahkannya.”
Heraklius berkata, “Demikianlah para rosul, mereka diuji dan kemudian hasil akhir menjadi milik mereka.”
b.      Hikmah lain adalah: terpilahnya antara orang beriman yang jujur, dan munafik yang pendusta. Sesungguhnya ketika Alloh menangkan kaum muslimin dalam perang Badar, orang yang dalam batinnya tidak Islam ikut masuk Islam secara lahiriyah. Maka, hikmah Alloh ‘Azza Wa Jalla menentukan untuk menimpakah ujian, yang dengan itu akan kelihatan siapa yang muslim sebenarnya dan siapa yang munafik. Maka ketika terjadi ujian seperti ini, kepala-kepala orang munafikpun terlihat, mereka mengatakan apa yang dulu mereka sembunyikan, rahasia mereka terungkap, ketidak jela-san mereka dulu kini berubah menjadi sangat terang. Manusia akhirnya terbagi kepada yang kafir, mukmin, dan munafik, dengan pembagian yang sangat nyata. Lalu, kaum mukminin baru tahu kalau ternyata mereka punya musuh  dalam satu tugas, musuh itu selalu ber-sama mereka. Hal ini dimaksudkan agar di masa mendatang kaum mukminin waspada dan berjaga-jaga terhadap orang-orang munafik.
c.       Di antara hikmah lain: Sekiranya Alloh Ta‘ala selalu memberi kemenangan kepada orang-orang beriman atas musuhnya, dan selalu memberikan kekuasaan serta kekuatan atas musuh-musuh mereka, tentu jiwa akan melampaui batas, sombong dan angkuh. Kalau Alloh mudahkan kemenangan bagi mereka, tentu kondisinya sama dengan ketika mereka dimudahkan rezekinya. Maka hamba tidak akan menjadi baik, kecuali dengan diberi kebahagiaan sekali waktu, dan kesedihan di waktu yang lain, diberi kegoncangan sekaligus kelong-garan, kesempitan sekaligus kemudahan. Alloh sajalah yang Maha Mengatur urusan hamba-hamba-Nya sesuai hikmah-Nya, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui dan Maha Melihat terhadap mereka.
d.     Di antara hikmah lainnya adalah: Menampakkan ‘ubû-diyah (sikap penghambaan) wali-wali dan pasukan-Nya, baik di kala senang maupun susah, di kala mereka suka maupun tidak suka, di kala menang maupun dikalahkan musuh. Jika mereka tetap teguh di atas ketaatan ibadah ketika dalam kondisi suka atau tidak suka, berarti mereka benar-benar hamba Alloh, bukan seperti orang yang beribadah kepada Alloh di satu sisi saja, yaitu ketika senang, atau hanya ketika mendapatkan kenikmatan dan kesejahteraan.
e.      Hikmah yang lain: Jika Alloh memberi ujian mereka dengan kekalahan, mereka akan merendahkan diri, merasa hancur dan rendah jiwanya. Ini memancing munculnya tekad untuk meraih harga diri dan kemenangan. Sebab, turunnya kemenangan itu tiba bersama dengan dominasi rasa hina dan patah semangat dalam diri. Alloh Ta‘ala berfirman:
ô‰s)s9ur ãNä.uŽ|ÇtR ª!$# 9‘ô‰t7Î/ öNçFRr&ur ×'©!ÏŒr& (
“Dan Alloh telah menolong kalian di Badr ketika kalian saat itu lemah (hina)...”  (QS. Âli ‘Imrôn [3]: 123)

“…dan (juga menolong kalian) pada waktu perang Hunain, ketika kalian merasa takjub dengan jumlah kalian yang banyak, tetapi kemudian itu tidak bermanfaat buat kalian…” (QS. At-Taubah [9]: 25)

Jadi, kalau Alloh hendak memuliakan, menguatkan, dan memenangkan hamba-Nya, terlebih dahulu Dia patah-kan semangatnya, sehingga kekuatan dan kemenangan itu sesuai dengan kadar merasa hina dan patah sema-ngat dia.
f.        Di antara hikmah yang lain: Alloh Ta‘ala telah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman derajat-derajat di negeri kemuliaan-Nya (akhirat). Derajat ini tidak akan mampu dicapai oleh amalan-amalan mereka, mereka tidak bisa mencapainya selain dengan adanya bala’ dan ujian. Maka, Alloh mendatangkan sebab yang dengan itu akan mengantarkan mereka untuk sampai ke sana, dengan bala dan ujian yang ia terima itu. Sebagaimana ketika Alloh memudahkan mereka untuk beramal sholeh, yang juga termasuk sebab untuk menghantarkan kepada derajat tersebut.
g.      Hikmah yang lain: Suasana aman sejahtera yang terus menerus, atau kemenangan, atau kekayaan, menjadikan diri kita berpotensi untuk melampaui batas dan cenderung kepada kehidupan dunia. Dan ini adalah penyakit yang menghalangi seseorang untuk bersung-guh-sungguh dalam menempuh perjalanan menuju Alloh dan negeri akhirat.  Maka jika Alloh sebagai robb jiwa tersebut, sebagai pemilik dan yang mengasihinya, hendak memuliakannya, Dia akan timpakan bala dan ujian kepadanya, yang itu berfungsi sebagai obat dari penyakit yang menghalanginya melangkah di atas jalan tadi. Sehingga bala dan ujian itu kedudukannya seperti seorang dokter yang memberikan obat pahit kepada orang sakit, atau memotong urat-uratnya yang sakit untuk mengeluarkan penyakit dari tubuhnya. Seandainya dokter membiarkannya saja, penyakit akan menggerogotinya dan lambat laun ia justru akan binasa.
h.      Hikmah lainnya: Mati syahid adalah derajat tertinggi di sisi Alloh bagi wali-wali-Nya. Orang-orang yang mati syahid adalah manusia yang diistimewakan Alloh sekaligus menjadi hamba-hamba-Nya yang didekatkan. Dan tidak ada derajat setelah siddîqîn (orang yang jujur imannya) selain derajat kesyahidan. Sedangkan Alloh Ta‘ala suka mengambil di antara hamba-hamba-Nya sebagai syuhada, yang darahnya tertumpah dalam rangka meraih kecintaan dan keridhoan-Nya, yang mereka lebih memilih keridhoan dan kecintaan-Nya daripada nyawa mereka sendiri. Tidak ada jalan untuk bisa meraih derajat ini selain dengan menempuh sebab-sebab yang bisa menghantarkan ke sana, yaitu dengan dikuasakannya musuh.”
Demikian perkataan Ibnu `l-Qoyyim Rohimahulloh.



[1] HR. Bukhôrî Muslim
Read more ...